Jejak Qaddafi Di Masjid Indonesia (bagian-2, Habis)




Mendiang Muammar Qaddafi

Namun, kehadiran Masjid Az-Zikra telah memberikan suasana spiritual baru dalam kehidupan Islam di wilayah ini. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Slamet Effendi Yusuf mengatakan hal itu.

Menurut dia, walau saat ini nama dan pengelolaan masjid sudah tidak lagi dalam kewenangan WICS dan Pemerintah Libya, ada baiknya pengelola sekarang tetap mengutamakan penggunaan masjid untuk seluruh umat Islam.

"Yang pasti ini tetap milik umat dan bukan hanya diperuntukkan bagi jamaah yayasan saja," kata pria yang juga menjabat ketua PB NU ini.

Slamet menambahkan, kehadiran masjid megah yang dibangun di atas lahan seluas 12.600 meter dan berkapasitas 22 ribu jamaah ini sangat berarti, terutama dalam membentengi akidah umat Islam di wilayah sekitar.

Masjid berarsitektur payung seperti Masjid Nabawi di Madinah ini telah mendapat tempat di hati umat Islam di sana.

Kiprah Masjid Qaddafy atau Masjid Az-Zikra sebagai pusat dakwah Islam di Sentul pun diakui Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) KH Syuhada Bahri.

Salah seorang penceramah tetap di Masjid Qaddafy itu mengatakan, setelah berdiri hingga perubahan nama dan pengelola, masjid ini tidak berhenti dalam aktivitas dakwah Islam.

Kehadiran Masjid dan Qaddafy Islamic Center (QIC) dapat membentengi akidah masyarakat dari sasaran pemurtadan. Masjid Az-Zikra telah melanjutkan cita-cita sang penyumbang dana, yakni sebagai pusat dakwah dan ibadah di wilayah Sentul, kata Syuhada.

Redaktur : Damanhuri Zuhri

Follow On Twitter